PT Pertamina EP Asset 2 Prabumulih Field bikin hutan pelangi di Prabumulih
Pagi ini, Senin (31/08) PT Pertamina EP Asset 2 Prabumulih
Field melakukan seremonial penanaman pohon pelangi. Kegiatan ini dimulai pada
pukul 08.00 WIB dengan dihadiri oleh pihak manajemen PT Pertamina EP Asset 2
Prabumulih Field. Penanaman hutan pelangi sebenarnya merujuk pada penanaman
spesies flora leda (Eucalyptus deglupta) atau populer disebut eukaliptus
Pelangi. Sebanyak 200 pohon Pelangi akan ditanam secara bertahap di Kompleks PT
Pertamina EP Asset 2.
“Lahan yang kita tanami ini dirancang khusus untuk menjadi
hutan edukasi konservasi keanekaragaman hayati di wilayah Prabumulih. Hari ini
kita menanam satu lagi spesies tumbuhan langka, Eukaliptus pelangi, untuk
memperkaya keanekaragaman tanaman yang sudah ada,” kata Ndirga Andri Isworo,
Pertamina Prabumulih Field Manager dalam sambutannya. “Kita ingin mewariskan
alam yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Sebagai informasi, di lahan kurang lebih seluas 4 hektar
telah ditanami beraneka jenis tumbuhan. Ada spesies flora endemik sumatra,
spesies langka hingga terancam punah, aneka tanaman kehutanan untuk peneduh dan
penyerap emisi gas rumah kaca, tanaman buah, serta spesies flora ornamental
atau tanaman hias. Di antaranya spesies merawan, tembesu, mahoni, bungur,
tanjung, kelapa, salam, dan lain-lain.
Assistan Manager HSSE Pertamina Prabumulih Field, Ronald
Hendra Simanjuntak, pada kesempatan yang sama menyampaikan bahwa konservasi
keanekaragaman hayati merupakan salah satu mandat bagi Pertamina untuk tetap
memelihara kelestarian alam. Setiap tahun kita selalu melakukan upaya
konservasi keanekaragaman hayati. Baik flora maupun fauna,” papar Ronald.
Pengelolaan dan Pemanfaatan
Terkait kegiatan konservasi Institut Agroekologi Indonesia
(INAgri), menyambut baik insiatif pengembangan hutan edukasi ini. Menurut
Syamsul Asinar Radjam, Pembina INAgri, Pemilihan spesies Eucalyptus deglupta
juga dianggap menarik. Selain nilai eksotisnya, spesies ini juga rentan
terancam punah. Habitat aslinya hanya ada di tiga negara, Indonesia, Filipina
(Pulau Mindanao), dan Papua Nugini, dan belum banyak dikembangkan baik untuk
tanaman kehutanan maupun konservasi. Tak heran bila Uni Internasional untuk
Konservasi Alam atau International Union for Conservation of Nature (IUCN)
mengkategorikannya sebagai spesies yang rentan punah (vulnerable).
“Yang terpenting adalah bagaimana program konservasi
keanekaragaman hayati diiringi dengan langkah-langkah pengelolaan. Baik
pengelolaan kawasan, pengelolaan pengetahuan, maupun pengelolaan produk yang
dihasilkan agar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi alam dan manusia,”tutur
Syamsul. “Sebagai contoh, jenis flora eukaliptus memiliki potensi minyak
atsiri. Sejumlah riset terkini menyebutkan minyak atsiri dari eukaliptus
memiliki kemampuan untuk pencegahan penularan covid-19 yang saat ini kita
hadapi bersama.
Ndirga juga menegaskan bahwa alam ini penuh dengan warna.
Eucalyptus deglupta juga dipilih sebagai spesies yang dikonservasi perusahaan
migas ini pada tahun 2020 juga karena keunikan warna-warni alami yang tampak di
kulit pohonnya. Sebelumnya, Pertamina EP Asset 2 Prabumulih Field memang banyak
menerapkan corak warna-warni pada program lain, misalnya pengembangan Desa
Burai di Kabupaten Ogan Ilir sebagai desa wisata yang dicirikan dengan rumah
tradisional yang dicat warna-warni, taman-taman bermain dan edukasi yang juga
penuh warna.

Comments
Post a Comment